Al Hikmah Batu Biasakan Berakhlak Baik dalam Pendidikan 24 Jam

Salah satu pekerjaan rumah dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana melahirkan lulusan yang tidak hanya pandai, tapi juga memiliki akhlak yang baik. Khususnya di tingkat sekolah menengah, banyak ditemukan berbagai kenakalan anak. Memang perlu diakui dalam usia tersebut, anak dalam tahap pencarian jati dirinya dan cenderung labil. Sehingga lingkungan menjadi salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku anak-anak.

Boarding School di Al Hikmah Batu

Menyadari hal itu, SMA Al Hikmah Batu menerapkan sistem pendidikan boarding school. Di dalamnya, para murid akan dididik selama 24 jam. Dengan begitu, diharapkan dapat melahirkan lulusan yang memiliki akhlak yang baik (sholih) kepada siapapun. Paling pertama kepada Allah, lalu Rasul-Nya, orang tua, guru dan sesama manusia.

“Akhlak adalah yang paling pertama ditanamkan. Kita tidak berbicara tentang akademik dulu sebelum akhlak ini kokoh,” kata Dr Edy Kuntjoro, selaku Kepala Sekolah SMA Al Hikmah Boarding School Batu.

pendidikan semi militer di islamic boarding school

Edy menjelaskan, para murid ini nantinya akan dididik sehingga bisa dan terbiasa untuk menjalankan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan Allah dan Rasulnya. Kemudian mereka juga harus menjadi anak yang santun kepada orang tua dan gurunya. Lalu mampu menghormati dan menghargai orang lain, termasuk ke dirinya sendiri. Ini semua akan digarap secara kokoh sebagai basic dan landasan pendidikan yang pertama kali akan digarap oleh Al Hikmah Boarding School Batu.

Pendidikan 24 Jam

Bagaimana caranya? Tentunya, tidak mudah. Karena itu, pendidikan karakter ini akan dibiasakan dalam aktivitas anak-anak selama 24 jam, baik di sekolah maupun di asrama. Sehingga sadar atau tidak, secara perlahan, murid akan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun untuk kegiatan rutin di Al-Hikmah Boarding School sebagai berikut. Dimulai dari saat bangun tidur. Para siswa akan dibangunkan sekitar pukul 03.00 WIB. Jadi, saat orang lain belum bangun mereka sudah bangun. Mereka akan dibiasakan untuk mengerjakan ibadah qiyamul lail di sepertiga malam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. “Setelah bangun, mereka kaan kami ajak ke masjid dan mengerjakan shalat tahajud 8 rakaat dan 3 rakaat witir,” ujar Edy.

Setelah itu, anak-anak menunggu sampai menjelang Salat Subuh berjamaah dilanjutkan mengaji dan membaca Al-Ma’tsurat . Kemudian sekitar 05.30 WIB mereka dipersilakan untuk melakukan olahraga pagi. Nantinya akan ada tanda alarm, mereka kemudian bersiap untuk berangkat sekolah lalu sarapan pagi. Kemudian secara tertib masuk ke dalam ruangan kelas untuk menjalankan proses belajar sampai 15.30 WIB.

Pendidikan Spiritual dan Kepemimpinan

Di tengah jam pelajaran, lanjut Edi, para murid juga akan diberi waktu untuk menjalankan Shalat Dzuhur dan Shalat Ashar berjamaah. Selepas Ashar, mereka memiliki waktu bebas sesuai dengan minatnya. Ada yang memilih klub olahraga ataupun ada yang ingin lebih mendalami materi pelajaran.

Lalu sekitar jam 17.00 WIB, mereka pergi ke masjid untuk menjalankan Shalat Magrib sekaligus menanti waktu salat Isya. Nantinya, di malam hari mereka ada kegiatan mempelajari bahasa. Mungkin bentuknya ada yang seperti ada bicara di depan publik (muhadhoroh) dan lainnya. Dilanjutkan ada belajar malam secara mandiri terstruktur.

“Di jam malam itu tidak hanya belajar pelajaran umum saja. Bagi mereka yang ingin mempelajari muatan keagamaan juga dipersilakan, seperti menghafal Al-Qur’an,” ungkap Edy.

Edy menambahkan, dalam proses pendidikannya, para siswa memiliki panduan masing-masing sesuai dengan proposal hidup yang telah dibuatnya ketika awal masuk. Panduan itu disebut sebagai ‘Self Directed Learning’ (SDL). Sehingga, nantinya apa yang dicita-citakan akan berusaha direalisasikan melalui target rutin mingguan ataupun tahunan.

“Termasuk di dalam kelas, para siswa memiliki kebebasan untuk mengatur jadwalnya sendiri. Mungkin ketika menjadi dokter ada mata pelajaran – seperti biologi, matematika dan bahasa Inggris – yang porsinya akan dilebihkan. Begitu pula untuk kegiatan non-akademiknya. Jadi, semua kegiatan itu kita kemas berbasis kebutuhan anak. Artinya tidak semua yang diberikan Al Hikmah kepada satu siswa dengan yang lain itu sama,” pungkas dia.

Releated Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *