Merdeka Belajar Al Hikmah Batu

LCMS Al Hikmah atau Learning and Content Management System memiliki cara unik untuk membuat anak-anak merasa senang dalam belajar. Tidak hanya lewat pembelajaran interaktif di kelas, Al Hikmah memiliki satu konsep yang belum banyak diaplikasikan oleh sekolah-sekolah lain. Konsep ini dikenal dengan konsep merdeka belajar ala LCMS Al Hikmah tentu saja.

Konsep merdeka belajar juga merupakan konsep yang terus digaungkan oleh Bapak Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim. Merdeka belajar adalah menyerahkan hak belajar murid kepada murid itu sendiri, sehingga akan tercipta pembelajaran yang mengasyikkan bagi sang murid tersebut.

Merdeka Belajar di Al Hikmah Batu Jawa Timur

Saat musibah virus Covid 19 datang, LCMS Al Hikmah sudah merasa siap untuk memulangkan full semua murid-muridnya. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa dengan konsep e-learning dari strategi merdeka belajar. Anak-anak memang menjadwal sendiri pelajaran sesuai keinginan mereka, namun pengelolaan dan kelompok tetap menjadi wewenang guru.

Tahapan pertama dalam proses e –learning merdeka belajar adalah pengajuan proposal hidup. Siswa akan menjuruskan keinginannya setelah mengetahui hasil dari tes minat dan bakat yang dilakukan oleh pihak sekolah. Hal ini tentu akan membuat siswa merasa bermanfaat di “jalannya”.

Ibarat hidup, siswa dituntun untuk menemukan jati dirinya sejak awal. Sebagai contoh misalnya, tak semua siswa menyukai pelajaran sains, apalagi memiliki cita-cita menjadi seorang sainstik. Namun sayangnya, pintar dalam sains dan matematika menjadi salah satu penilain baik pendidikan kita saat ini.

Hal itulah yang hendak dibantah oleh LCSM Al Hikmah, para dewan dan pemrakarsa metode ini meyakini bahwa setiap anak mampu pada minat dan bakatnya masing-masing. Mereka hanya perlu diasah setajam mungkin, hingga kelak kebermanfaatanlah yang akan memberi bukti.

Pola Merdeka Belajar Al Hikmah Batu

Tahapan kedua dalam konsep e-learning merdeka belajar ini adalah pembentukan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang siswa saja. Mereka dibentuk berdasar kemiripan bakat dan minat. Kenapa setiap kelompok hanya terdiri dari 4 orang saja? Bukankah lebih banyak siswa akan lebih baik untuk diskusi dan brainstorming.

merdeka belajar Al Hikmah BatuPertanyaan ini dijawab oleh tim LCMS dengan realistis. Mereka menyadari bahwa dengan belajar online sungguh jauh berbeda dengan belajar secara offline. Saat siswa belajar secara online, maka bisa dipastikan akan sedikit sekali interaksi yang terlihat jelas. Maka dari itu, kebijakan LCMS mengelompokkan siswa menjadi hanya 4 orang dalam satu kelompok dirasa sangat baik untuk pengelolaan kelas secara online.

Pengelompokan kelas akan dievaluasi setelah enam bulan. Apakah anak yang berada dalam satu kelompok  yang sama benar-benar merasa terbantu satu sama lain? Apakah mereka mampu bekerjasama dengan baik? Apakah mereka  merasa nyaman satu sama lain dengan interaksi social online? Kesemua hal itu akan dievaluasi ulang untuk benar-benar memastikan para siswa juga melibatkan emosi baik dalam pembelajaran, sekalipun tentunya lewat media daring.

Tugas dalam Merdeka Belajar Al Hikmah Batu

Tahap ketiga dalam metode e-learning merdeka belajar ini adalah penugasan. Penugasan yang dilakukan tidak hanya sebatas tugas saja ya namun ada beberapa kelas yang harus diikuti terlebih dahulu. Kelas pertama adalah kelas wajib, disini, para siswa dilatih untuk memahami tema dengan baik lewat penjelasan guru.

Selain itu, sebelum kelas dimulai, para siswa juga berkewajiban untuk membaca dahulu materi yang akan disampaikan sehingga penjelasan guru dapat diterima dengan maksimal.

Kelas kedua yang harus diikuti adalah kelas konsultasi. Di dalam kelas konsultasi, para siswa diharuskan untuk banyak berdiskusi dengan teman-temannya. Lewat diskusi, maka daya kritis dan kreatifitas akan terbangun.

Tak hanya itu, dalam kelas konsultasi, para siswa dapat bertanya apapun pada gurunya. Dengan demikian, diharapkan para siswa memiliki pemahaman yang kompleks tentang tema yang telah diajarkan.

Kelas ketiga adalah kelas penugasan. Nah, penugasan ini bertujuan untuk mengukur kemampuan akademis siswa. Penugasan dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, tergantung sikon saja. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa setelah mengikuti kelas-kelas online ini cukup naik signifikan.

Mungkin hal ini dikarenakanpara siswa menyenangi belajar dengan pilihan mereka sendiri. Bahkan untuk siswa yang menonjol di non akademis, mereka tetap sanggup memenuhi criteria ketuntasan minimal atau KKM dari sekolah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menguasai pelajaran ya.

Releated Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *